Oleh: abimanyu182 | Maret 16, 2008

PROFIL MINGGU INI (MAYOR HARISTANTO)

Presiden Aeng-aeng dari “Keluarga Sableng”

MAYOR Haristanto bukan jin. Tapi dia bisa mengubah hal-hal yang dianggap mustahil menjadi terlihat gampang. Kesanggupan mewujudkan mimpi, lebih tepatnya ide, membedakan pria kelahiran Wonogiri ini dengan orang kebanyakan. Tatkala banyak kalangan masih ragu untuk bertindak, dia telah berada selangkah di depan.

Ide-idenya bernas. Tahun 2000, Mayor menggagas lahirnya kelompok suporter sepak bola Solo, Pasoepati. Tahun berikutnya, suami Nani Mayor itu turut membidani kelahiran kelompok suporter The Macz Man (PSM Makassar), Asykar Teking (PSPS Pekanbaru), dan Persmanisti (Persma Manado). Empat rekor Muri (Museum Rekor Indonesia) telah dicetaknya. Selain memrakarsai kelahiran komunitas-komunitas suporter, penghargaan itu diperolehnya karena menggagas karangan bunga terbanyak pengucapnya, tim kampanye artis yang dipilih lewat SMS terbanyak, dan menumbangkan rekor karangan bunga terbanyak pengucap sebelumnya.

Jauh sebelumnya, tahun 1982, Mayor menyelenggarakan pameran kartun karya anak-anak di Jakarta dan Semarang. Konon, itulah kali pertama kartun buatan anak-anak dipamerkan. “Kegilaannya” semakin menjadi-jadi setelah idenya tentang kelompok suporter Solo yang kreatif terwujud. Festival Aeng-aeng, sepak bola kolosal gaya Solo dengan 102 pemain, three on three Solo Football Fun Games -sepakbola berkonsep basket, pembentangan spanduk suporter terbesar adalah beberapa idenya yang cukup menggemparkan.

Tak hanya itu. Mayor juga membawa anak-anak sekolah dasar ke tengah sawah. Praktisi periklanan ini mengenalkan anak-anak dengan kehidupan petani. Para pelajar yang masih mungil itu ikut memanen padi dan menggotong gabah. Mereka juga bergelut dengan pekatnya lumpur. Tujuannya: memperkenalkan pertanian Indonesia dan memupuk empati kepada petani. Sekali waktu, anak-anak ini juga dibawanya mengunjungi para pemain Persis Solo yang sedang berlatih. Menurutnya, jiwa sportivitas lewat olah raga perlu ditanamkan sedari dini. Masih panjang sederet ide-idenya yang terwujud dan terekam oleh media. Namun, dia belum mau berhenti.

“Ide-ide itu mengalir saja. Kadang saat saya bangun pagi terlintas ide. Lagi duduk santai atau berjalan. Di tengah keramaian atau saat sendirian. Semuanya datang, alakazam! Dan saya menganggapnya bukan mimpi kosong, meski orang lain menganggapnya demikian. Maka saya pun berjalan, melobi, mempersiapkan A-Z, mendekati media, dan menjadikannya nyata.”

Presiden Republik Aeng Aeng. Itulah jabatan yang disandangnya saat ini. Republik Aeng Aeng disebut Mayor sebagai “negara” bagi ide-ide kreatifnya. Lewat wadah yang didirikannya itu dia terus berkreasi, mewujudkan hal-hal yang mungkin terdengar mustahil. Stadion, lapangan, sawah, jalan, bahkan pasar menjadi tempatnya berkarya. Aeng Aeng sendiri bermakna nganeh-nganehi, unik yang positif. dengan sinikal Mayor menyebutnya OTB, organisasi tanpa bentuk. Republik Aeng Aeng memang tak memiliki struktur dan tak punya anggaran dasar. Bukan yayasan atau pun paguyuban.

Pria yang lahir 15 Mei 1959 ini putra keempat dari 10 bersaudara. Anak pasangan Kapten Kastanto Hendrowiharso dan Sukarni itu dikenal ulet dan pantang menyerah. Nama Mayor sendiri pemberian bapaknya yang seorang tentara. “Mengapa Mayor? Pangkat itu setingkat lebih tinggi dari pangkat ayah. Dengan nama itu beliau berharap, putranya ini bisa melebihinya.” Namun, tak satu pun putra-putri Kastanto yang masuk ke dinas militer. Putra tertua, Bambang Haryanto dikenal sebagai penulis kreatif, pendiri komunitas Epistoholik Indonesia. Putra yang lain, Broto Happy W menjadi wartawan di salah satu tabloid olahraga nasional, Bola. “Ayah saya tak ingin anak-anaknya mengikuti jejak beliau. ‘Menjadi tentara itu berat, cukup saya yang menjalani’, begitu selalu katanya.” Saudara Mayor yang lain memiliki profesi berbeda-beda. Ada yang menjadi dosen, karyawan atau berwiraswasta.

Menurut Ayu Permata Pekerti, anak pertama Mayor, semua saudara ayahnya memang termasuk aeng-aeng. Jika keluarga besar itu bertemu, ramailah tingkah-polah mereka yang unik dan slebor. Ayu bersama adiknya, Lintang Rembulan, kadang takjub menyaksikan “kegilaan” atau “kesablengan” mereka.

Jalan hidup Mayor tak selalu mulus. Saat menjabat Presiden Pasoepati (2000-2001), tudingan miring kerap menerpanya. Alumni Jurusan Pemerintahan UGM ini kerap dianggap selalu bekerja sendiri, single fighter atau one-man show. Dia juga dituding otoriter. Pasoepati juga dituduh hanya dimanfaatkan sebagai kendaraannya untuk menguasai kue iklan. Kendala ekonomi juga memaksanya mundur dari struktur Pasoepati.

Tapi Mayor bergeming. Republik Aeng Aeng disebutnya sebagai jawaban bagi mereka yang meragukan kemampuannya. Seperti pengakuannya, dia masih ingin terus berkarya. Mayor memang tak pernah “mati”. Gagasannya terus lahir dan lahir terus.
disarikan dari suaramerdeka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: