Oleh: abimanyu182 | Oktober 15, 2007

Jadwal padat, pemain Persis pun diburu latihan


Jadwal padat, pemain Persis pun diburu latihan

– Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi momentum yang dinanti oleh umat Islam, tak terkecuali para punggawa Persis Solo. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah Bulan Ramadan, saat berkumpul bersama keluarga di Hari Lebaran sangat dinanti-nantikan seluruh pilar Laskar Sambernyawa.

Sayangnya, padatnya jadwal kompetisi Liga Indonesia (Ligina) tahun ini membuat klub hanya memberikan jatah libur selama lima hari. Akibatnya kebersamaan bersama keluarga pun tidak bisa dinikmati lama. Bahkan ada beberapa pemain yang memutuskan tidak mudik karena keterbatasan waktu.
Bek tengah Hary Syaputra yang berlebaran di kampung halamannya di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, tak sempat ke mana-mana dan hanya berlebaran di rumah orangtuanya.
”Kebetulan ayah dan ibu termasuk dituakan di dalam keluarga dan lingkungan sini, jadi saudara-saudara berkumpul di rumah. Terutama dari keluarga ibu, karena beliau merupakan satu-satunya anak perempuan. Apalagi hampir semua saudara tinggal di Jakarta, beberapa saja yang tinggal di Medan,” tutur Hary ketika dihubungi Espos, Minggu (14/10).
Setelah menunaikan salat Idul Fitri, layaknya jutaan umat Islam lainnya, pilar Timnas Indonesia tersebut melakukan tradisi sungkeman dan dilanjutkan acara makan bersama dengan hidangan utama ketupat dan rendang.
”Besok pagi (hari ini-red) saya sudah balik lagi ke Solo, soalnya sorenya kan sudah latihan,” imbuh Hary.
Hampir sama dengan Hary, striker Persis Rudi Widodo juga menikmati Hari Kemenangan dengan brkumpul bersama familinya di Pati, Jawa Tengah. Karena ayah mantan pemain Persiter Ternate tersebut merupakan anak tertua di keluarga, maka kebanyakan saudara-saudaranya datang bersilaturahmi ke rumah.
”Yang pertama jelas sungkem-sungkeman dengan keluarga inti yang jumlahnya lima. Terus baru ketemu dengan saudara-saudara lain,” ujarnya sambil menambahkan tiap tahun di rumahnya tak pernah ketinggalan menyajikan makanan khas Pati, nasi gandul, sebagai hidangan khas Lebaran.
Konsekuensi
Jika beberapa pemain masih sempat pulang kampung, tidak demikian dengan Iswan K Bode dan Lubis Syukur. Keduanya terpaksa mengubur harapan berlebaran di kampung halaman terhalang jarak dan waktu.
Lubis terpaksa untuk kali pertama merayakan Hari Kemenangan di rumah temannya di Salatiga, sebab untuk mudik ke Mamuju, Sulawesi Barat, membutuhkan waktu ekstra. Dan itu tidak cukup dilakukan dalam lima hari.
”Rasanya ga enak banget. Tetapi mau gimana lagi, saya kan pemain profesional sehingga harus bisa menerima konsekuensi seperti ini. Orangtua sangat mengerti, apalagi awal puasa saya sudah menyempatkan pulang karena tahu Lebaran pasti tidak bisa mudik,” jelas Lubis.
Lalu apa yang kegiatan para pemain lokal Solo yang tidak perlu mudik di Hari Idul Fitri?
”Paling seperti biasanya berkunjung di rumah saudara. Kalau dengan teman-teman Persis kemarin kirim ucapan lewat SMS. Nanti paling bermaaf-maafan lagi pas ketemu di mes,” tutur Syaiful Bachri


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: