Oleh: abimanyu182 | Mei 21, 2007

FOLLOW ME


[I]It’s Easy To Be Nice Guy. Follow Me, Follow Pasoepati.[/I]
[B]Suporter, Merchandise, Atribut[/B]
Suporter adalah pemain ke duabelas dalam lapangan. teriakan, sorak, bahkan hujatan tak jarang membuat kecut nyali pemain lawan maupun pengadil. bahkan bagi mereka yang jarang melihat sebegitu heroiknya para suporter tersebut kalau sedang dilapangan akan merasa merinding.
apalagi ketika awal2 pertandingan para suporter tersebut menyanyikan “padamu negeri” seolah tak kan pernah ada gesekan antar suporter karena nasionalisme mereka begitu tinggi.
Every Body can you see. Pasoepati telah datang. kami datang dengan damai bukan mencari musuh. Sebuah salam yang biasa kami teriakan ketika kami akan memasuki stadion lawan.kadang rasa ciut ketika melawat ke kandang musuh yang memiliki ribuan suporter yang lebih banyak dari kita muncul. tapi melihat semangat dari rekan rekan yang benar2 membawa misi It’s Easy To Be Nice Guy. Follow Me, Follow Pasoepati. rasa itu hilang berganti rasa jumawa akan minoitasnya kami di stadion itu tetapi tetap menjadi daya tarik bagi mereka kerena kreatifitas kami. kadang saya harus ber PD ria kerena setiap kali datang kestadion Benteng sendirian tanpa kawan dan mengenakan baju Pasoepati. entah apa yang ada dibenak para benteng mania maupun Laviola saat itu. tapi begitu sampai stadion bertemu dengan Anak2 Pasoejak yang lain. rasa pd yang saya paksakan tadi hilang dengan sendirinya. kenangan terindah ketika mendukung solo adalah ketika musim 2004 kala menghadapi persikota. dengan hanya membayar 5000 rupiah kita bisa nonton di kls satu karena faktor keamanan.(panpel tidak mau kita bersinggungan langsung dengan grass root persikota yang kebanyakan menonton di kls rata2) dan akhirnya kemenangan itu kita peroleh setelah sebelumnya 2003 kita kalah melawan persita+ persikota. ketika lawatan melawan persita sebelumnya kita juga kalah. ada catatan menarik ketika melawan persita pada musim 2004 rombongan pasoejak memang seperti biasa blm masuk stadion tetapi masih berkumpul2 di depan stadion sambil menunggu kawan yang lain. eh tiba2 datang rombongan bis hiba utama dengan orang2 berseragam merah polos. kata anak2 sih dari solo. akhirnya kami ikut saja masuk. sesampai dalam kita bisa duduk duduk dulu. eh tanpa dinyana rombongan tadi siap siap melakukan nyanyian dan nyanyiannya adalah “ANAK BETAWI KETINGALAN JAMAN KATeNye” Busyet. anak mana nih. usut punya usut rombongan itu adalah rombongan dari kampung ambon(kalau gak salah) yang disewa orang dirjen beacukai. O pantes. ‘secara”m zein githu loh.kebetulan kan waktu itu mau pemilu jadi ada atau tidaknya hubungan kaos merah itu dengan partai yang pemimpinya punya motto”silence please” saya juga gak tau. yang pasti kami kalah bahkan sampai mas andi yang biasanya paling kalem marah marah kepada wasit. (saiki wis ra wani nesu2 inget umur. delok engkas nduwe anak)
Apa jadinya bila sebakbola tidak disusui lagi oleh dana APBD apakah bayi yang namanya kompetisi ini kan mati atau avitaminosis. sudah cukup punya daya jualkah sepakbola negeri ini.Tradisi “Mbludus” dan memakai atribut non original sudah melekat di dalam suporter kita. masih berharapkah kita dari uang tiket yang mereka keluarkan untuk menonton sebuah pertandingan. tapi itu hanya rasa pesimis saya saja. kecintaan kita terhadap tim jagoan kita pasti sangatlah besar. lha wong kalau tim kita kalah saja pasti urusannya jadi perang. perang membela harga diri republik. begitu mas bambang menulisnya. oke soal militansi dan fanatisme kita tidak bisa ragukan lagi. tapi soal keinginan mereka untuk maju. apakah mereka rela menonton tim kesayangan mereka dengan merogoh kocek 20ribu sekali main. apakah mereka siap memakai atribut original yang harganya 20 ribu dgn bahan yang alakadarnya. dibandingkan 10 rb dengan baju yang mereka bisa desain sendiri dan pesan sendiri. PR buat manajemen klub, Kelompok suporter dan klub itu sendiri untuk menampilkan sebuah suguhan kreasi seni olahraga yang orang kalau membeli tiket untuk melihatnya tidak kecewa.
Maaf anda dibelakang AREMANIA. sebuah tulisan yang terkesan “narsis” akan tetapi memiliki rasa fanatisme yang cukup tinggi. mas beha dalam artikelnya pernah menulis tentang republik sepakbola. memang begitulah adanya dalam negeri kita. kita selalu terjebak dengan simbol simbol. kita tidak perduli makna tapi kita percaya akan logo dan simbol2.dan kenapa para anggota the jack lebih memilih baju orangenya dari pada memakai merah putih ya karena mereka percaya bahwa dengan simbol 2 itu mereka merasa diakui. mengutip omongan cak nun” kita sudah terjebak simbol. kalau kita pake peci pasti kita disebut islam yang fanatik, kalau kita cuma pake celana jeans kita berarti islam KTP” tak usahlah kita terjebak dlam sudut pandang semacam itu. kalau pun kita memang pgn mendukung tim nas sudahlah pake baju merah putih saja toh intinya lagu yang kita teriakkan adalah lagu indonesia raya. jangan jadikan sepakbola yang punya andil besar untuk menyatukan kita ini kita gunakan untuk mengkotak2an dukungan kita. cukup satu indonesia raya saja yang kita gaungkan. oto kritik juga buat kita pasoepati. kadang kita juga lebih sering berkumpul dengan kawan2 kita dari slemania daari pada teman teman kita dari Panser biru. walaupun akhirnya pada waktu akhir pertandingan kita juga berphoto2 ria dengan mereka. kenapa gak dari pertama saja ya. kok pake malu malu. semoga pahlawan yang mengemakan supah pemuda tidak bangun dari mimpi indahnya gara gara adanya republik baru bernama Republik suporter ini dan republik suporter itu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: