Oleh: abimanyu182 | April 30, 2007

FILM FILM FILM

30 Maret Sebagai HARI “bangkitnya” FILM NASIONAL
sejarah perfilman indonesia dimulai ketika tahun 1926 kala itu judul film yang beredar di bioskop kita adalah Loetoeng Kasaroeng (WIKIPEDIA ;Loetoeng Kasaroeng adalah film pertama yang diproduksi di Indonesia. Film bisu ini dirilis pada tahun 1927 oleh NV Java Film Company. Disutradarai oleh dua orang Belanda, G. Kruger dan L. Heuveldorp dan dibintangi oleh aktor-aktris pribumi, pemutaran perdananya di kota Bandung berlangsung dari tanggal 31 Desember 1926 sampai 6 Januari 1927 di dua bioskop terkenal Elite dan Oriental Bioscoop (Majestic).

kemudian pada pasca kemerdekaan film lahir dengan semangat yang berbeda. jika selama ini film lebih mengacu pada hiburan saja tetapi ketika pasca proklamasi semagat nasionalisme mewarnai tema perfilman kita. Film LONG MARCH karya Usmar Ismail merupakan tonggak lahirnya hari perfilman nasional. Tepatnya 57 tahun yang lalu, telah disepakati bersama bahwa shooting hari pertama film Darah dan Doa atau dikenal juga dengan judul The Long March menjadi tonggak bagi eksistensi film Indonesia. Film yang kala itu disutradarai H Usmar Ismail — pria kelahiran Bukit Tingi, Sumatra Barat, yang menjadi ikon terbesar dalam sejarah film nasional — hadir dengan mengusung sebuah semangat kebangsaan.

lalu setelah dekade 45 muncul generasi perfilman tahun 60 – 80 an antara lain, Teguh Karya(Terlahir dengan nama Liem Tjoan Hok, di Pandeglang, Jawa Barat, 22 September 1937, Teguh Karya yang oleh rekan terdekatnya akrab dipanggil Om Steve, adalah sutradara film pelanggan piala citra. Dia layak disebut suhu teater Indonesia yang banyak melahirkan sineas-sineas terkemuka. Bagi para seniman ia dianggap sebagai bapak, guru, sekaligus teman.Sejumlah judul film karya Teguh yang berhasil mengangkat nama sutradara dan pemain bintangnya, diantaranya, Wajah Seorang Laki-Laki (1971), Cinta Pertama (1973), Ranjang Pengantin (1974), Kawin Lari (1975), Perkawinan Semusim (1977), Badai Pasti Berlalu (1977), November 1828 (1979), Di Balik Kelambu (1982), Secangkir Kopi Pahit (1983), Doea Tanda Mata (1984), Ibunda (1986), dan Pacar Ketinggalan Kereta (1986).)

ada juga Embi C Noer (Lahir di Cirebon, 17 Juli 1955, Embi yang bernama asli Rumli memang selama ini dikenal sebagai pekerja kesenian yang tekun dan tak banyak berkoar-koar. Ia adalah pemusik, yang sentuhan karyanya mengiringi banyak karya film dan televisi-beberapa di antaranya tergolong film-film penting-di Indonesia. Ingat saja garapan musik filmnya, misalnya lewat karya Arifin C Noer, Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa, Serangan Fajar, SOB, Matahari Matahari, Jakarta 66, dan lain-lain. Atau juga lewat karya Nyak Abas Acub, Cintaku di Rumah Susun. Itu hanya untuk menyebutkan sebagian yang sangat kecil saja. Sedang di televisi, ia menggarap musik untuk karya antara lain Bukan Perempuan Biasa (garapan Jajang C Noer), Nurlela (Ucik Supra), Keluarga Cemara (Dedi Setiadi), dan masih banyak lagi.)

setelah itu film kita seperti mati suri. akhirnya tahun 1980an film indonsia kembali bangkit tetapi pada saat itu eksploitasi sex dan kekerasan muncul sebagai tema dalam hampir setiap film di indonesia kala itu.seperti Bebas Bercinta, Ranjang Cinta, Gairah Terlarang, Gejolak Nafsu, Permainan Erotik, Sentuhan Erotik

diantara tahun 1980 – 1994 TRIO warkop DKI ikut pula meramaikan khazanah perfileman indonesia. bahkan sampai sekarang film – film mereka masih sering di putar di televisi- televisi kita. berikut diskografinya.
Mana Tahaaan… (1979) bersama Elvy Sukaesih
Gengsi Doong (1980) bersama Camelia Malik
Pintar Pintar Bodoh (1980) Bersama Eva Arnaz, Debbie Cynthia Dewi, Dorman Borisman
GeEr – Gede Rasa (1980) bersama Dorman Borisman, Ita Mustafa, Itje Tresnawati
Manusia 6.000.000 Dollar (1981) Bersama Eva Arnaz, Dorman Borisman
IQ Jongkok (1981) bersama Enny Haryono, Marissa Haque, Alicia Djohar
Setan Kredit (1981) bersama Minati Atmanegara, Alicia Djohar
Dongkrak Antik (1982) bersama Meriam Bellina, Mat Solar dan Pietrajaya Burnama
Chips (1982) bersama Tetty Liz Indriati dan Chintami Atmanegara
Maju Kena Mundur Kena (1983) bersama Eva Arnaz dan Lidya Kandou
Pokoknya Beres (1983) bersama Eva Arnaz dan Lydia Kandou
Itu Bisa Diatur (1984) bersama Ira Wibowo dan Lia Warokka
Tahu Diri Dong (1984) bersama Eva Arnaz
Kesempatan Dalam Kesempitan (1985)
Gantian Dong (1985) bersama Ira Wibowo, Lia Warokka, Chintami Atmanegara, Lelly Sagita, Wieke Widowati dan Advent Bangun
Atas Boleh Bawah Boleh (1986) besama Eva Arnaz, Dian Nitami
Sama Juga Bohong (1986) bersama Ayu Azhari dan Nia Zulkarnaen
Depan Bisa Belakang Bisa (1987) bersama Eva Arnaz
Makin Lama Makin Asyik (1987) bersama Meriam Bellina, Timbul
Saya Suka Kamu Punya (1987) bersama Doyok
Jodoh Boleh Diatur (1988) bersama Raja Ema, Yurike Prastika, Ira Wibowo dan Nia Zulkarnaen
Malu-Malu Mau (1988) bersama Nurul Arifin, Sherly Malinton
Godain Kita Dong (1989) bersama Ida Kusumah dan Tarzan
Sabar Dulu Doong…! (1989) bersama Anna Sherley, Eva Arnaz
Mana Bisa Tahan (1990) bersama Nurul Arifin dan Sally Marcellina
Sudah Pasti Tahan (1991) bersama Nurul Arifin dan Sally Marcellina
Bisa Naik Bisa Turun (1991) bersama Kiki Fatmala dan Sally Marecellina
Lupa Aturan Main (1991) bersama Eva Arnaz
Masuk Kena Keluar Kena (1992) bersama Kiki Fatmala
Salah Masuk (1992) bersama Gitty Srinita, Angel Ibrahim
Bebas Aturan Main (1993) bersama Lella Anggraini, Diah Permatasari
Bagi-Bagi Dong (1993) bersama Kiki Fatmala dan Inneke Koesherawaty
Saya Duluan Dong (1994) bersama Diah Permatasari
Pencet Sana Pencet Sini (1994) bersama Sally Marcellina dan Taffana Dewi

pertengahan dekade 90an muncul film – film garin yang agak “aneh” di pentas peredaran film cinta dalam sepotong roti (kembangkan) rembulan tertusuk ilalang (kembangkan paquita diem) dan daun diatas bantal. film yang terakhir adalah film yang paling berkesan bagi penulis. film yang menceritakan bagaimana kehidupan anak jalanan di daerah yogyakarta tentang angan mereka, tentang cita – cita mereka dan entang mimpi mereka yang berujung dengan sangat pahit . tapi keajitan itu tidak membuat penghargaan memicingkan mata terhadap film tersebut justru film tersebut banyak medapatkan penghargaan di banyak kategori bukan hanya di indonesia bahkan sampai ajang internasional

pada tahun 1995 kuartet mira lesmana, riri reza, nan t achnas dan rizal matovani mengebrak dengan membuat film kuldesak. lalu mira dan riri kembali bekerja sama dengan menciptakan petualangan sherina. film indonesia yang bisa menyaingi film asing yang beredar di 21 pertama kali. setelah itu mira kembali membuktikan bahawa niat dia memajukan film indonesia bukan isapan jempol. berduet dengan Rudi Sudjarwo mira membuat AADC. film yang melambungkan duet rangga dan cinta ( Nico dan Dian ). FILM indonesia backit dari kubur. setelah itu ada Jose rizal, rizal matovani dan Dimas Jay. trio ini menciptakan film horor yang bergentanyangan lagi setelah dedam ratu kidul ETC muncul lah Tusuk jalangkung. kemudian film horor pun masih mengikuti jalangkung diantaranya, Tusuk jalangkung, titik hitam, Dll.

setelah kebangkitan film indonesia banyak sudah film – film yang telah beredar di indonesia. dari berbagai macam film tersebut penulis bisa mengambil beberapa sutradaara yang bisa dianggap bagus. Antara lain Riri riza, Mira lesmana, hanung Bramantyo, Rudi Sudjarwo, Joko Anwar, dan mantan sineas jaman dulu yang yang sekarang menjadi sutradara


Responses

  1. ma’kasih yaaa…posting – an lo ini sannggggaaattt membantu tugas gue. heheheh..ma’kasih!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: